Sunday , 21 October 2018
Home / Akhlak / 3 Kelompok Perilaku Manusia Dalam Berdzikir Tauhid

3 Kelompok Perilaku Manusia Dalam Berdzikir Tauhid

Dzikir

Dzikir merupakan salah satu ibadah yang selalu mengingatkan kita kepada Allah swt. Sehingga dengan memperbanyak dzikir tentu akan menambah kadar keimanan kita kepada Allah. Tapi nggak semua orang sama dalam mengingat Allah, mereka pun terbagi dalam 3 kelompok dalam bertauhid dan berdzikir.

Menurut Ibnu Athaillah Sakandary, manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir.

  1. Dzikir melalui Lisan : Yaitu dzikir bagi umumnya makhluk.

  2. Dzikir melalui Qalbu : Yaitu dzikir bagi kalangan khusus dari orang beriman.

  3. Dzikir melalui Ruh: Yaitu dzikir bagai kalangan lebih khusus, yakni dzikirnya kaum ‘arifin melalui fana’nya atas dzikirnya sendiri dan lebih menyaksikan pada Yang Maha Didzikiri serta anugerahnya apada mereka.

Nggak hanya itu, ia juga membagi ketika jika berdzikir Allah maka aka nada tiga kondisi ruhani yang bakal dilewati. Pertama: Kondisi remuk redam dan fana. Kedua: Kondisi hidup dan baqo. Ketiga: Kondisi nikmat dan ridho.

Kondisi pertama: Remuk redam dan fana Yaitu dzikir orang yang membatasi pada dzikir Allah saja, tidak berdzikir dengan asma-asma lainnya, yang secara khusus dilakukan pada awal mula penempuhan. Ismul Mufrod tersebut dijadikan sebagai munajatnya, lalu mengokohkan manifestasi “Haa’ di dalamnya ketika berdzikir.

Maka siapa yang melanggengkanya, maka nuansa lahiriyah terfanakan dan batinnya terhanguskan. Mungkin secara lahiriyah ia seperti orang gila, akalnya terhanguskan dan remuk redam, tak satu pun diterima oleh orang. Manusia menghindarinya bahkan ia pun menghindar dari manusia, demi kokohnya remuk redam dirinya sebagai pakaian lahiriahnya.

Nggak cuma itu, kondisi batinnya seperti mayat yang fana, karena dzat dan sifatnya diam belaka. Diam pula dari segala kecondongan dirinya maupun kebiasaan sehari-harinya, disamping anggota tubuhnya lunglai, hatinya yang tunduk dan khusyu’.

Sebagaimana firmanNya :
“Sesungguhnya Kami akanA� menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Al-Muzammil: 5)
“Dan kamu lihat bumi ini kering, dan apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumjbuhan yang indah.” (Al-Hajj : 5)

rasulullah

Kondisi kedua: Dari kondisi hidup dan abadi (baqo), yaitu ketika seseorang berdzikir dengan Ismul Mufrod “Allah” tadi mencapai hakikatnya, kokoh dan melunakkan dirinya, maka simbol-simbilnya dan sifat-sifatnya terhanguskan.

Kemudian, Allah meniupkan Ruh Ridho setelah a�?kematian ikhtiar dan hasrat kehendaknyaa��. Pada tahap ini mereka telah menghilangkan hasrat kebiasaan diri dan syahwatnya, dan telah keluar dari sifat-sifat tercelanya, lalu berpindah (transformasi) dari kondisi remuk redam nan fana menuju kondisi hidup dan baqo.

Kondisi tersebut menimbulkan nuansa kharismatik dan kehebatan dalam semesta, dimana segalanya takut, mengagungkan dan merasa hina dihadapan hamba itu bahkan semesta meraih berkah kehadirannya.

Kondisi ketiga: Kondisi Nikmat dan Ridho, maka bagi orang yang mendzikirkan Allah pada kondisi ini senantiasa mengagungkan apa pun perintah Allah swt, jiwanya dipenuhi rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah Ta’ala, tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam mengajak manusia menuju agama Allah swt. Dari jiwanya terhampar luas bersama Allah swt,A� hanya bagi Allah swt.

Rahmat Allah swt meliputi keleluasaannya, dan tak satu pun makhluk mempengaruhinya, bahkan tidak ada yang tersisa kecuali melalui izin Allah swt. Ia telah berpindah dari kondisi ruhani hidup dan baqo, menuju kondisi nikmat dan ridho, hidup dengan kehidupan yang penuh limpahan nikmat selamanya, mulia, segar dan penuh ridhoNya. Tak sedikit pun ada kekeruhan maupun perubahan. Selamat, lurus dan mandiri dalam kondisi ruhaninya, aman dan tenteram.

Sebegitu kokohnya, ia bagaikan hujan deras yang menyirami kegersangan makhluk, dimana pun ia berada, maka tumbuhlah dan suburlah jiwa-jiwa makhluk karenanya. Hingga ia raih kenikmatan dan ridho bersama Allah Ta’ala, dan Allah pun meridhoinya.

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Check Also

Ghurur, Penyakit Hati yang Harus di Waspadai

a�?Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup inia�� menyimak syair yang dipopulerkan olehA� …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *