Sunday , 21 October 2018
Home / Akhlak / Ramadhan: Hujan yang Menyirami Bara Kebencian

Ramadhan: Hujan yang Menyirami Bara Kebencian

Tak berjarak lagi umat Islam bersapa Ramadhan a�� bulan yang penuh kasih sayang sang pencipta kepada mahluk ciptaannya. Jika bentangan waktu 4 bulan lalu dipenuhi astmofir kemarahan dan kebencian, tentu tak hayal jika Ramadhan ini mampu menjadikan tetesan hujan yang membasahi bara amarah menjadi pelukan dan saling memaafkan dimasyarakat.

Harmonisasi masyarakat terkoyak, kehidupan bernegara terancam, informasi dari negeri antah berantah berseliweran saling caci, saling fitnah, dan saling hujat, sosial media bukan lagi sebagai pertemuan para sahabat, kini menjadi ajang debat meski pengetahuan hanya sekelebat, berjabat pun semakin jauh dari kata persahabatan.

Kasus yang membelit Ahok sebagai Gubernur DKI yang bakal maju sebagai calon incumbent bergerak liar, benturan keyakinan dan realitas memaksa masyarakat berpikir keras mengkritisi fenomena yang berkembang cepat menjelma bola salju besar yang menggelinding melibas semua keharmonisan Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang toleran. Kedigjayaan Pancasila kini memasuki masa ujian kembali.

Ayat-ayat semakin banyak bermunculan, ratusan ribu manusia turun ke jalan membela ajaran Tuhan yang Tuhan sendiri mampu menjaganya tanpa harus libatkan mahluk ciptaannya. Diantara kebingungan masyarakat, orang-orang pandai merangkai kata ambil untung jutaan rupiah untuk membelokan hati yang gundah gulana. Idealismenya tergadai menyampaikan kabar hoax demi tokoh-tokoh yang tak pernah dikenalnya.

Saling menyakiti keyakinan membekaskan luka diantara pemeluk agama. Segelintir masyarakat tak terprovokasi berharap pesta Pilkada dan kasus hukum Ahok berakhir. Namun apa lacur, hati yang terjangkit Ghurur (tipu daya) telah membiru ciptakan lebam yang sulit hilang. Apakah Tuhan memerlukan pembelaan dengan saling menyakiti? Sedangkan zatnya adalah kasih sayang. Apakah Tuhan menginginkan mahluk ciptaannya saling menancapkan sembilu? Sementara cinta dan rahmat menjadi bahasa-Nya.

Benarkah kita membela keyakinan terhadap Tuhan ataukah dendam yang selalu dibisikan ke dalam hati. Dalam ajaran Islam kesalahan adalah stempel yang mengiringi perjalanan manusia, Di tilik sirah nabawi pun Nabi Adam dan Hawa sebagai penghulu umat manusia diawali dengan kesalahan karena melanggar perintah Allah swt. Namun cinta dan rahmat-Nya menjadikan kata maaf dikenal hingga saat ini.

Meski pilkada telah berakhir, Ahok telah menerima keputusan pengadilan, seribu sayang aura kebencian tak jua meredup. Tapi Gusti Allah mboten sare ungkapan orang bijak terhadap cinta dan rahmat kepada bumi Nusantara, bulan Ramadhan yang akan menjadi tetesan embun yang bakal menumbuhkan kembali tunas-tunas maaf, melahirkan bunga-bunga tepo seliro, daun-daun kasih sayang, dan membentuk satu kesatuan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan.

Memaafkan dan meminta maaf menjadi esensi seutuhnya dari Ramadhan. Tak akan menang pertarungan melawan hawa nafsu, sementara kebencian dan dendam masih bersemayam dengan tenang dalam hati. Maaf merupakan tisu yang mampu membersihkan cermin-cermin didalam hatiA� dari kerak kebencian terhadap seseorang, debu- debu dalam pergunjingan, dan jelaga kesombongan merasa telah memiliki kebenaran.

Hati yang telah memaafkan tentu akan mudah menyerap rahmat Illahi, kemudian memantulkan cahaya-cahaya Tuhan kepada orang lain yang dapat dilihat oleh orang sekitar kita dengan istilah perilaku. Sehingga tak heran di Nusantara ada tradisi meminta maaf menjelang bulan Ramadhan.

Meski demikian terdapat segelintir kelompok yang mengganggap tradisi bermaafan ini bagian diluar yang diajarkan Rosulullah. Bulan Ramadhan merupakan bulan suci maka tradisi bersuci pun dikenal di Indonesia. Bukan saja bersuci secara fisik degan membersihkan rumah, perkarangan, rumah ibadah, tetapi juga melakukan bersuci secara bathin dengan terjemahan untuk saling memaafkanA� kepada keluarga, suami istri, maupun orang-orang disekitar kita. Kebiasaan baik ini tentunya sesuai dengan ajaran Islam yang termuat dalam surat Al-Baqarah ayat 178:

a�?Barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan caa yang baik, hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang member maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat periha��.

Atau dalam surat Al-Imran ayat 134 yang berbunyi: a�?Dan orang-orang yang suka memaafkan kepada orang banyak dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.a�?

Atau surat As-Syura ayat 43 yang berbunyi : a�?Dan Niscayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan sesungguhnya hal yang demikian termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hatia�?.

Masih banyak lagi ayat-ayat suci yang mengajarkan manusia untuk saling memaafkan. Memang tak dipungkiri terdapat beberapa kelompok yang menganggap bidA?h dalam tradisi meminta maaf menjelang bulan Ramadhan. Karena suatu kebiasaan yang baik dan tidak menambahkan pada tatanan ibadah madhoh atau ibadah murni, tidak masuk dalam kriteria bidA?h.

Jika menambahkan dalam ibadah sholat memang dilarang, namun kebiasaan baik dengan meminta maaf tentunya menjadi kewajiban dalam menjalankan perintah Allah. Tak layak memvonis bidA?h untuk kebiasaan yang banyak diperintahkan dalam kitab suci.

Ramadhan juga melukiskan bagaimana kasih sayang Allah swt kepada mahluknya yang tak bertepi. Fadilah Ramadhan pun terbagi tiga, 10 hari yang penuh rahmat, 10 hari penuh magfiroh, dan 10 hari terakhir terhindar dari siksa neraka.

Jika pertengahan Ramadhan saja Allah memberikan maafnya atas dosa-dosa yang dilakukan sepanjang tahun kepada hambanya, lantas kekuasaan apa yang dimiliki manusia sampai tidak memaafkan sesama mahluk ciptaannya. Tentunya jalan akan terasa lancar ketika menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih, penuh rasa saling memaafkan sehingga tidak ada lagi permusuhan.

Jika hati belum mampu berdamai dari kebencian dan dendam antara pendukung dan pembenci Ahok, jika masih terbesit kebencian atas nama agama, maka bukan agama yang sedang dibelanya, tetapi nafsu setan yang sedang dipeliharanya. Cuplikan ayat-ayat suci yang hanya dilampiaskan untuk memuaskan kebenciannya, maka dipastikan setan telah cawe-cawe melakukan tipu daya.

Hakikat manusia hidup didunia ini berasal dari kesalahan, jangan heran jika surat Alfatiha selalu dibawakan dalam berbagai hajat dan acara, menjadi sari pati seluruh surat yang ada dikitab suci, bacaan yang wajib dalam setiap rokaat sholat tersebut memperlihatkan bahwa manusia banyak berbuat salah, sehingga selalu meminta petunjuk jalan yang lurus.

Alfatiha pun memiliki mahkota yang tak kalah dashyat, kalimat Basmalah (Denga Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang) menjadi inti dari semua kehidupan didunia ini. Tentunya jika cahaya kasih sayang Tuhan bersemayam di kalbu manusia, pasti pintu saling memaafkan selalu terpancar dalam perilakunya.

Ramadhan ini harus menjadi hujan yang menyimari khatulistiwa yang kering akibat bara dendam yang menghanguskan hijaunya Nusantara yang penuh toleransi. Garuda pun dengan bangga mengusung Bhineka Tunggal Ika-nya.

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Check Also

Keutamaan dan Apa yang Harus di Lakukan Pada Bulan Syaban

Islam memiliki waktu-waktu yang sangat dihormati. Selain bulan Ramadhan sudah sepatutnya kita juga mengenal bulan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *