Sunday , 21 October 2018
Home / Ekonomi Syariah / Benarkah Uang kertas Haram Menurut Islam?

Benarkah Uang kertas Haram Menurut Islam?

Jika sebelumnya banyak perdebatan tentang bank syariah dan konvensional, maka jika ditilik lebih dalam tentu akan tertuju pada alat tukar dalam bertransaksi. Salah satunya adalah uang kertas yang sekarang ini menjadi alat tukar manusia di seluruh dunia.

Lantas bagaimana dengan Islam terkait uang kertas? Karena sejak jaman rosul hingga khalifah terakhir umat Islam tidak mengenal uang kertas. Tetapi kepada mata uang berupa Dinar dan Dirham.A� Menurut Syaik Al Azhar, Syaik Illis mengatakan kalau uang kertas tersebut merupakan sesuatu yang haram karena mengandung riba.

Sejak Tanzimat di Kesultanan Utsmaniyah tahun 1840, umat Islam kemudian secara resmi menggunakan alat tukar transaksi berbentuk uang kertas. Namun ratusan tahun yang lalu, Rosullulah SAW, menggunakan alat tukar Dinar dan Dirham, sekaligus sebagai alat untuk membayar zakat.

Sayang sejak abad 19, penggunaan uang kertas telah menimbulkan keraguan dalam muamalat maupun ibadah zakat. Pandangan yang menyatakan uang kertas haram datang dari Syeik Universitas Al Azhar yang terakhir, Syaik Illis, sebelum kampus Islam tersebut dihancurkan oleh Inggris pada abad 19. Bahkan ulama tersebut sempat mengeluarkan pendapatnya terkait uang kertas.

Dalam sebuah fatwanya, ia berkata :

Saya ditanya mengenai penilaian saya terhadap segel Sultan (sejenis uang kertas yang digunakan pada zaman Kekhalifahan Osmanli) yang beredar sebagai pengganti dinar dan dirham. Apakah Zakat wajib atasnya, sebagaimana yang terjadi pada emas, perak dan barang, atau tidak?

Saya menjawab:

Segenap puji bagi Allah dan rahmat dan kedamaian bagi Junjungan kami Muhammad, Rasulullah sallalahu alayhi wa sallam.

Tidak ada zakat yang dibayar atasnya, sebagaimana zakat diwajibkan atas sapi, beberapa biji-bijian dan buah-buahan, emas, perak, nilai dari pendapatan dagang dan barang simpanan. Barang yang disebutkan di atas (segel Sultan) tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Engkau akan melihat amal dari penjelasan mengenai hal ini pada koin tembaga yang dicetak dan diberi segel Sultan yang beredar, dimana tidak ada zakat yang dibayarkan atasnya, karena tidak termasuk ke dalam kategori yang wajib untuk dizakatkan. Sebagaimana tercantum dalam kitab Mudawwana: Barang siapa yang memiliki koin receh (fulus) senilai 200 dirham dalam satu tahun, tidak diwajibkan zakat atasnya, kecuali ia merupakan barang dagangan. Maka, si pemilik harus melihat nilai koin tersebut sebagaimana nilai barang dagangan.a�?

Al Tiraz, menyebutkan Abu Hanifah dan Asy Syafii menyatakan dengan tegas pembayaran zakat atas koin receh, karena keduanya mempertimbangkan pentingnya membayar zakat atas nilainya, disebutkan juga bahwa terdapat dua perbedaan dalam pendapat A�Syafii, ia menyatakan bahwa sikap mahdhab yang menyatakan tidak mewajibkan zakat atas koin receh, tidak ada perbedaan pula bahwa koin receh dilihat dari nilainya, bukan dari berat dan jumlahnya.

Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi dan yang sejenisnya.

Dan Allah, segenap puji dan sembah bagiNya. Maha Bijaksana. Semoga Allah memberkahi dan memberikan kedamaian bagi junjungan kita, Nabi Muhammad berserta seluruh keluarganya.

Wah, gimana ada perdebatan perbankan syariah dan konvesional, kalau dari alat tukarnya yang saat ini berupa kertas dengan di beri nilai menjadi haram.

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *