Sunday , 21 October 2018
Home / Inspirasi / Malunya Meminta Kepada Allah

Malunya Meminta Kepada Allah

berdoa

Permasalahan tentu selalu ada bagi manusia yang masih bernafas. Banyak orang yang mencoba menyelesaikan permasalahannya dengan berbagai cara. Namun tak sedikit melalui doa-doanya, yang meminta segala permasalahan hidupnya bisa dimudahkan oleh Allah swt.

A�Terkadang sang a�?arif merasa malu jika mengajukan kebutuhannya kepada Tuhannya, semata karena merasa cukup dengan kehendakNya. Bagaimana tidak malu, jika ia harus mengungkapkan kebutuhannya pada sesama makhluk?

Bagi mereka yang arif (bukan temen di pojok kelas yah) berdoa dengan menyampaikan hajat-hajatnya kepada Allah swt sebenarnya sebagai bentuk ubudiyah, bukan sebagai permintaan, atau menyodorkan permasalahan yang dihadapi biar Tuhan yang membereskan. Soalnya kehendak Allah swt tetap mendahului permintaan dan doanya. Sehingga mereka lebih memasrahkan diri atas kehendaknya dari pada permintaan kebutuhannya.

Nah sebagai umat Islam jadi lebih malu lagi lho kalo kita malah mengungkapkan kebutuhan kita kepada sesama mahluk, apalagi kepada mahluk selain Allah. Bukankah kita disuruh meminta kepada Allah, dan Allah bakal mengabulkannya. A�Nah, kalo itu benar banget deh. Tapi bagi mereka yang sudah arif hal itu lebih kepada menjaga adab yang terus menjaga rasa fakirnya kepada Allah swt, tanpa ada pamrih doanya segera di kabulkan.

Dzikir

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq ra mengatakan, a�?Tanda-tanda maa��rifat adalah anda tidak meminta kebutuhan anda, baik kebutuhan dalam jumlah kecil maupun besar, kecuali semua itu dari Allah Swt, sebagaimana Nabi Musa as, rindu untuk melihat Allah Swt, ia berdoa, a�?Ya Tuhan tampakkanlah diriMu padaku, aku akan melihatmu.a�? (Al-Aa��raf 143), dan suatu ketika ia sangat butuh roti, lalu dia berkata, a�?Ya Tuhan, sesungguhnya diriku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.a�? (Al-Qashah: 24)

Biasanya kalo sudah mencapai tahap arif, mereka lebih sibuk mengingat Allah dibanding memintaNya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt. Namun, ketika para arif berdoa dan meminta, hanya semata sebagai wujud kehambaannya, bahwa ia harus menjaga kefakiran, rasa hina dina, ketakberdayaan dan ketakpampuan di hadapanNya.

Tentu saja, mereka yang faham Allah, akan cukup bersama Allah sehingga dia kaya raya jiwanya, ia mulia bersama Allah karena kebergantungan pada kemuliaanNya.

Syeikh Abu Hasan Asy-Syadzily ra menegaskan, a�?Standar pemahaman hamba pada Tuhannya, bukan terletak pada banyaknya amal, bukan pula pada langgengnya wirid, namun standarnya adalah sejauh mana ia memahami nur-Nya, dan kefahamannya akan sikap merasa cukup pada Tuhannya, dan semangat hatinya padaNya, kemerdekaannya dari belenggu tamak, lalu berhias dengan hiasan waraa��. Karena dengan itu semua amal-amal jadi bagus dan perilaku batin jadi bersih.

Sebagaimana firmanNya, a�?Kami jadikan apa yang ada di muka bumi sebagai hiasan baginya, agar Kami menguji, siapa diantara mereka yang terbaik amalnya.a�? (Al-Kahfi: 71)

 

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Check Also

Kisah Inspiratif Dari Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani

Apa yang keluar dari hati pasti akan masuk dalam lubuk hati Dikisahkan Syeikh ‘Abdul Qadir …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *