Sunday , 21 October 2018
Home / Inspirasi / Serem, Medsos Kini Ajang Tebar Fitnah

Serem, Medsos Kini Ajang Tebar Fitnah

fitnah-di-medsos

Jaman digital seperti sekarang ini tentunya banyak memberikan efek positif dan negatif dalam bersosial. Jika sebelumnya sosial media merupakan sebuah sarana digital untuk memperluas kehidupan sosial, bahkan dapat menjalin tali silahturahim yang terputus, namun fenomena belakangan ini Medsos menjadi sarana menyeramkan bagi kita terjerumus dalam fitnah.

Yup, apalagi kalo bukan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Sehingga dapat disimpulkan saat ini terdapat dua kubu yang saling berseteru. Tapi yang disayangkan banyak pengguna medsos ini terbawa oleh informasi-informasi yang tak bisa dipertanggung-jawabkan.

Nggak bermaksud menyalahkan kedua kubu yang tengah bertikai sengit dimedsos hal ini dapat membawa kita pengguna medsos hanya dalam perbuatan dosa dengan menyebarkan fitnah. Tahukah sebenarnya yang terjadi pada medsos kita sekarang ini? Hal ini memang menjadi proyekan yang cukup menggiurkan nominalnya menjelang perhelatan politik. Sehingga para Buzzer kedua belah pihak-lah yang mendapatkan keuntungana��yang penting membela siapa yang bayar tanpa peduli kebenaran informasi tersebut. Sedangkan kita? Hanya dapat dosa karena menyebarkan fitnah dan memutuskan tali silaturahim karena perbedaan pendapat.

Tahukah kamu seperti apakah fitnah tersebut? Dalam Islam pun banyak cerita-cerita hikmah yang terkait dengan fitnah, salah satunya tentang seorang pemuda yang sering kali menjelekan seorang ulama. Hingga suatu saat ia mendapatkan hidayah untuk bertaubat. Untuk itulah sang pemuda menghampiri sang ulama agar mendapatkan maaf dari apa yang pernah ia lakukan terhadapnya.

Apakah di rumahmu ada kemoceng?” Tanya seorang Ustadz pada seorang pemuda.

“Ada, ya Ustadz,” jawab pemuda itu.

“Pulanglah. Besok kemarilah lagi dan bawa kemoceng itu. Kau harus berjalan kaki. Dalam perjalananmu, cabutilah bulu-bulu kemoceng itu, setiap kau mengingat kejelekan yang kau tujukan kepada ku. Lalu buanglah di sepanjang perjalananmu kemari, satu helai demi satu helai.”

“Baik Ustadz.” Pemuda itu pun pulang. Dan keesokan harinya, dia pun kembali lagi menemui Ustadz tersebut.

“Wahai ustadz, aku sudah mengikuti semua yang engkau perintahkan kemarin. Aku ke sini berjalan kaki. Dan semua bulu kemoceng ini sudah dicabuti dan dibuang seperti perintahmu.”

“Bagus. Sekarang pulanglah. Tapi, dalam perjalanan pulang, kumpulkan kembali semua bulu-bulu kemoceng yang kau buang tadi. Besok kembalilah lagi.”

“Baik Ustadz”. Dia sungguh tidak mengerti, apa maksud Ustadz ini memerintahkan ini dan itu.

Ada beberapa pertanyaan muncul. Namun pertanyaan terbesar adalah, apa pelajaran yang sedang diajarkan oleh Ustadz itu kepadanya. Dia pun pulang. Dalam perjalanan pulang, dia mulai melaksanakan perintah Ustadz itu: mengumpulkan kembali bulu-bulu kemoceng yang dibuangnya. Sungguh bukan pekerjaan ringan. Karena bulu mudah tertiup angin. Terbang dan berpindah ke sana kemari, tanpa dia tahu ke mana arah yang dituju. Di mana tempat yang disinggahi. Usaha untuk mencari sudah sangat maksimal. Dia pun menghitung, waktu yang dibutuhkan untuk pulang ternyata jauh lebih lama daripada waktu untuk berangkat. Dia pun pulang dengan perasaan sedih, lelah, dan penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, esok menjelang. Dia harus kembali menemui sang Ustadz.

“Bagaimana, sudah terkumpul semua?”

“Tidak Ustadz. Dari sekitar 500 helai yang saya buang saat berangkat, ternyata hanya ada 5 helai yang bisa saya kumpulkan kembali.”

*****

hoax

Hikmah dalam kisah tersebut fitah itu bagaikan bulu kemoceng. Satu fitnah yang kita sebar melalui medsos, maka seperti membuang satu helai bulu kemoceng tersebut.

Informasi tanpa kebenaran tersebut kemudian di share terbang tak tentu arah, menuju ke tempat yang tidak kita tahu. Hinggap dari satu tempat, kemudian terbang ke tempat lain dengan membawa berita yang sama: FITNAH.

Kita tidak tahu bagaimana cara mengumpulkan bulu kemoceng tersebut, seperti halnya kita nggak tahu bagaimana meluruskan sebuah informasi.Karena kita juga tidak tahu sudah sampai mana dan ke mana menyebarnya. Menyesal sudah tidak ada guna, walau yang difitnah sudah memaafkan. Tapi fitnah sudah menjadi fakta pergunjingan, yang sebarannya sangat luas.

Ditambah bumbu dengki, maka tak ayal fitnah mudah disebar. Apalagi ditambah juga dengan bumbu kepentingan, maka fitnah sering dijadikan senjata. Pada intinya sama, kita tidak tahu bagaimana meluruskannya.

Allah sendiri menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Tapi, kisah diatas mungkin sebuah gambaran, informasi yang kita share di medsos, tanpa diketahui kebenarannya berpindah ke satu atau dua orang. Awalnya satu, dua, lalu menjadi seratus, seribu dan seterusnya.

Tanpa kita sadar, terkadang kita juga berperan membuat situasi menjadi kian parah. Kita menyebarluaskan fitnah. Dengan mudahnya jari jemari ini menekan tombol LIKE, COMMENT, atau SHARE dari sebuah tautan yang tidak kita ketahui kebenaran informasinya, kevalidan datanya, atau keshahihan sumber/sanadnya. Kita juga terlalu mudah mempercayai berita, di media sosial utamanya. Walau belum yakin kebenarannya, tapi karena sesuai dengan pandangan berpikir dan standar kita tentang baik dan buruk, benar dan salah, tetap saja kita menyebarluaskannya. Terlalu banyak tautan yang masih diragukan kebenaran atau kebaikannya, atas dasar kesesuaian selera, runtuhlah logika berpikir kita.

 

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Check Also

Cara Memandang Nasib

Dalam diri kita pasti sering menilai nasib seseorang. Bahkan tak jarang penilaian sesaat tersebut membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *