Sunday , 21 October 2018
Home / sejarah / Islam di Indonesia: Esensi yang menjadi Karakter (1)

Islam di Indonesia: Esensi yang menjadi Karakter (1)

Islam Indonesia jaman dahulu

Gontak-gontok antara umat Islam Indonesia belakangan bikin hati wes-ewes. Apalagi tengok sosial media, informasi asal menambah pengunjung atau like menjadi capaian cita guna dapatkan pundi-pundi rupiah bagi para buzzer.

Tanpa tendeng aling-aling asyik menyesatkan generasi millennium, entah ada pesanan atau tidak tapi pastinya persaudaraan umat Islam mengkhawatirkan. Entah adakah maksud selebung agenda untuk menghancurkan Islam di Indonesia atau tidak.

Tapi pastinya, melihat secara global Islam di dunia tengah tercerai berai, Afghanistan, Irak, Yaman, Libia, Palestina, dan paling bikin dada berdenyit suriah yang saling bantai sesama Islam. Mungkinkah Islam Indonesia akan seperti itu.

Karakter Islam Indonesia

Walau sekarang ini prihatin, tapi Indonesia memiliki Islam yang berkarakter sehingga agak sulit untuk menghancurkannya, hal itu sama sulitnya ketika memperkenalkan Islam Indonesia. A�Nggak percaya, yuk tengok waktu orang Belanda bernama C. Snock Hurgronje. Bule ini bukan hanya hafal Alquran, sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul MuA�n, sehingga tak dapat dinistakan kalau ia paham betul dengan Islam.

Snock Masuk Indonesia dengan melakukan penyamaran dengan Syekh Abdul Ghaffar. Sayangnya di Indonesia dirinya dibikin tujuh keliling. Pasalnya Islam yang dipelajari Snock nggak bisa menemui wajah Islam di Indonesia.

Bicara tentang Allah, di Jawa nggak ketemu adanya istilah pangeran, ngomongin istilah sholat juga nggak ada, adanya sembahyang. Mencarai syaikhun atau ustadz apalagi, soalnya adanya kiai. Mau mencari mushola nggak bakal ketemu, adanya langgar.

Pusing tak mendapatkan yang dituju, akhirnya ia dibantu Van Der Plas menyamar, mereka belajar bahasa Jawa. Saat itu mereka sudah mahir berbasa Indonesia dan Melayu. Mau belajar bahasa Jawa Snock makin keblinger (sedikit stress).

Gimana nggak pusing satu kata untuk nasi atau bahasa Jawa-nya Sego saja, Snock bingung dengan istilah turunannya. Nasi ketika di sawah namanya padi, pas dipanen namanya ulen-ulen, begitu ditumbuk berubah jadi gabah, saat terbuka menjelma jadi beras. Kalau padinya kecil disebut menir, dimasak namanya sego, nasi yang menyediri namanya upa, kalo dibungkus daun pisang berubah jadi lontong. Pakai janur namanya ketupat, dimasak sampai hancur namanya bubur, sementara bahasa Inggris semuanya disebut rice.

Pusing tak memahami Islam Indonesia Snock tarik-tarik jidat, gagal paham pun disampaikan Snock dengan mencirikan Islam Indonesia:

  • Kethune miring sarung ngelinting (peci miring dan sarung nyelempang)
  • Mambu rokok atau bau rokok
  • Tangane gudigen alias terkena penyakit kulit

Nah laporan itulah yang dapat disampaikan C. Sncok hurgronje di perpustakaan Leiden. Snock yang bingung ternyata juga dialami oleh masyarakat sekarangA� yang nggak paham Islam di Indonesia. Lihat puji-pujian dianggap bidA?h. Syukuran bikin tumpeng, bidA?h Islam nggak ngajarin kaya gitu. Parahnya lagi mereka manggil nabi dengan nama Muhammad saja, tapi bertutur dengan tukang bakso aja pakai penghormatan Mas, Abang, Kang.

Bukan Ulama Sembarangan

Memperkenal Islam di Indonesia bukanlah pekerjaan yang gampang. Karena membutuhkan ulama-ulama yang tinggi ilmunya namun juga memiliki kecerdasan dalam memilih strategi. Jika di Afrika mungkin hal yang gampang karena dari tingkat peradabannya tak semaju di Jawa. Masuk ke Eropa juga nggak sulit karena dalam keadaan terpuruk. Nah kalo yang datang ke Nusantara yah harus mikir keras, karena masuk ke dalam bangsa yang sedang kuat-kuatnya.

Ketika itu majapahit menjadi kekuatan yang diperhitungkan dunia, Majapahit memiliki universitas yang yang besar yang dikenal dengan Nalanda. Hukum politik terstruktur dan tertulis dalam kitab Negarakertagama, ilmu sosial ada dalam kitab Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu karena memiliki SDM yang diatas rata-rata, kaya, dan makmur.

Kalo bicara surga di tanah Jawa nggak bakal laku, dalam penggambaran Alquran: Tajri min tahtihal Anhaar atau air mengalir. Bagi orang Indonesia nggak perlu ke surga untuk mencari air yang mengalir. Sawah aja disini selalu dialiri air. Bicara di surga banyak buah-buah, di Indonesia melimpah sehingga Indonesia terkadang dijuluki surga, artinya bukan pekerjaan gampang menyebarkan Islam diIndonesia.

Jika diceritakan tentang Tuhan,mereka sudah punya Sanghyang Widi, bicara soal Kaa��bah orang Jawa punya stupa, soal tugu Jabal Rahmah, peradaban kita sudah kenal Lingga Yoni. Hari raya kurban, disini sudah kenal dengan istilah kedri.

Pusingnya lagi, agama hindu itu memiliki 4 kasta, kalau mau bicarakan agama hanya berkasta Brahmana saja yang boleh. Jika ingin bicarakan pemerintahan hanya mereka yang berkasta ksatria dan tidak boleh bicara agama karena masih mikirin dunia. Kasta waisya sama nggak boleh bicarakan agama, kemudian dibawahnya lagi ada kasta Sudra yang sama nggak boleh ngomong soal agama. Jadi masih percaya Islam masuk ke Indonesia dari pedagang? Sementara Sudra nggak boleh ngomongin agama.

Islam dibawa ke Indonesia itu melalui ulama-ulama pilih tanding, yang bukan sembarangan ulama bisa menyebarkan Islam di Indonesia. Hanya yang punya ilmu tinggi dan keluasan bathin yang mampu mengislamkan bumi Nusantara.

Cerita ini dibabad dari ceramah kiai Ahmad Muwaffiq di halaman TPQ MatholiA?l Falah, Dk. Pesantren, Ds. Sembongin, Kec. Banjareco, Kab. Blora, Jawa Tengah. Untuk selanjutnya bisa ditunggu Strategi Jempolan Walisongo.

About Muslim Ramah

Muslim Ramah hadir sebagai alternatif informasi tentang Islam secara sederhana, tanpa harus tenggelam dalam perdebatan dan merasa paling benar. Muslim Ramah lebih mengutamakan bagaimana perilaku masyarakat muslim yang bermartabat tinggi, sehingga menjadi masyarakat yang memberikan kedamaian, kenyamanan, dan penuh kasih sayang kepada mahluk Allah yang lainnnya. Muslim ramah juga menghadirkan pemahaman-pemahaman Alquran dan Hadist dengan cara yang sederhana dan berbentuk infografis sehingga mempermudah masyarakat muslim memahami ajaran Islam secara mudah dan kembali mempraktekannya menjadi sebuah perilaku kehidupan Muslim yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *