Wednesday , 12 December 2018
Home / sejarah / Islam Indonesia: Esensi yang jadi Karakter (II)

Islam Indonesia: Esensi yang jadi Karakter (II)

Strategi Jempolan Walisongo

Berdakwah Islam di Indonesia bukan perkara mudah, ulama-ulama yang dikirim pun banyak mengalami masalah. Tak sedikit yang balik badan. Hingga akhirnya 1500 ulama yang dipimpin oleh sayyid Aliyudin habis sama orang Jawa.

Guna menghindari darah yang tumpah, maka Turki Utsmani mengirim ulama dari Persia yang memiliki ilmu yang tinggi bernama Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi, orang Jawa menyebutnya dengan nama Syek Subakir.

Tanah Jawa kemudian di duduki Syek Subakir, karena terlalu tua akhirnya dilanjutkan oleh kedua muridnya yang bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi. Silsilah pun berlanjut, Menak Sembayu yang menyerah kemudian menikahkan anaknya dengan Maulana Ishak dan melahirkan penerus Raden Ainul Yaqin atau Sunan Giri.

Beberapa masyarakat Majapahit sebagian lari ke Bali, dan Kediri, mereka yang menyerah tetap dibiarkan tapi tidak telanjang. Arak diganti air, mengorbankan manusia diganti ayam, mantra merogoh sukmo diganti kalimat tauhid.

Orang-orang Majapahit bukanlah masyarakat yang bodoh, apalagi dengan pengaruh Hindu. Tentunya saat itu strategi jempolan harus dimainkan. Karena itulah ia menggunakan ilmu padi, dimana Islam itu seperti tanaman memiliki anak, hamil, berbuah, kemudian ibu dan anak bersama memenuhi pasar. Tanaman yang mengelurakan anak terlebih dahulu dan kemudian bunting adalah padi. Karena itulah Sunan Ampel menanamkan Islam seperti menanam padi. Maka menanam keyakinan tidak dengan terang-terangan ia pun mengikuti cara menanam padi yang tidak menanamnya diatas tanah, karena kalau diatas tentu akan dimakan ayam atau hama lainnya.

Menghadapi orang Jawa yang telah tinggi peradabannya terbilang sulit. Jika dulu ingin menanamkan tauhid, di sini sudah ada Pangeran, mau mengajarkan sholat sudah ada sembahyang. Ingin menananm ustadz sudah ada kiai.

Karena itulah mereka melakukan penanaman Islam secara perlahan, sedikit demi sedikit. Memperkenalkan kalimat syahadat menjadi kalimasada. Syahadatain menjadi sekaten, mushola menjadi langgar, hingga terbenam menjadi bahasa masyarakat yang membumi.

Tapi pekerjaan PR yang paling sulit memberi pemahaman kepada orang Jawa itu adalah tentang kematian. Hal itu karena di Hindu telah mengenal reinkarnasi. Bahkan mengubahnya menjadi pekerjaan yang paling revolusioner saat itu. Sunan Ampel pun menyiasati Inna lilahhi wa inna ilaihi rojiun diperkenalkan kepada masyarakat Jawa menjadi Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Bahkan melalui pengamatannya ternyata orang Jawa sangat suka bernyanyi atau nembang. Beliaupun mengambil inisiatif dengan mengajarkan beberapa hal yang sulit dengan tembang. Orang Jawa sangat mudah dalam menghafal tembang, Inna Lilahi Wa Innailaihi Rojiun pun ditembangkan dalam bentuk macapat.

Artinya orang hidup harus mengerti 4 perkara, keempatnya merupakan temannya nyawa yang menemaninya ke dunia. Siapa 4 temannya? 2 adalah iblis yang menyesatkan dan 2 lagi malaikat yang bertugas menahan jin Qarin dan Hafadzah.

Sehingga sekarang dikenal istilah Dulur Papat Limo Pancer, sehingga yang di maksud pancer jika ingin menghendaki suatu wanita maka terdapat 2 pilihan menggunakan dulur kanan atau kiri. Kalau jalan kanan maka yang dibaca Ya Rahman Ya Rohim.

Tapi kalo yang dibaca menggunkan dulur kiri, pastinya yang dibaca yah sebuah aji-aji Jaran Goyang supaya si wanita jatuh cinta. Kalai ingin perkasa yang dibaca jalan kanan La haula wala quwwata illa billahila��aliyyil adzim, nah kalo yang kiri bisa baca aji-ajian Bondowoso, begitu juga soal harta, jalan kanan sholat Dhuha, tapi kalo jalan kiri bisa naik gunung Kawi.

Baca juga :A�http://muslimramah.com/inspirasi/islam-di-indonesia-esensi-yang-menjadi-karakter-1

Jadi jangan heran kalau dukun sama kiai itu sama. Sama-sama hebat tirakatnya, sama-sama sakti kalau cari barang hilang.bedanya satu menggunakan terangnya lampu, nah yang satunya terangnya rumah yang terbakar.

Kalau kiai mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan rumahnya utuh. ah kalo dukun mecarinya pakai daun kelapa kering dibakar. Hasilnya ayamnya ketemu, tapi daunnya habis terbakar, sehingga itu juga yang membedakan nur dan nar.

Sehingga manusia itu jalannya dikiaskan dalam tembang, yang pada masa awal adalah:

  • Mas Kumambang : tembang ini menggambarkan turunnya nyawa ke alam dunia secara rohani, sedangkan secara jasmaninya diserahkan kepada bidan untuk imunisasi.
  • Mijil : tembang ini mensyariatkan aqiqah, kalau laki 2 ekor kalau perempuan 1 ekor.
  • Kinanti: tembang ini mengajarkan anak-anak agar diberi bekal agama. Ajarkan untuk mengaji, atau masukan ke TPA, atau ke RA. Masa tegas untuk membentuk anak-anak. Masa untuk sekolah dan ngaji.
  • Sinom : tembang ini menggambarkan masa anak-anak mulai remaja, yang memilki sifat bandel dank eras kepala.
  • Asmorodono: tembang yang menggambarkan kisah cinta-cintaan.
  • Gambuh : tembang ini merupakan tembang Dhandanggulo atau merasakan manis dan pahitnya kehidupan.
  • Dhurma : tembang ini menceritakan tentang darma bakti selama hidup? Jika tumbuhan minimal memberi manfaat dengan menghasilkan oksigen, sementara selama kita hidup apa yang dapat diberikan kepada orang lain.
  • Tembang panggkur : tembang ini menggambarkan anak manusia yang mulai memandang tanah, gigi mulai tanggal, ingatan mulai berkurang, tenaga mulai payah, maka mulailah wajib masuk masjid.
  • Pucung : tembang ini menjawab permasalahan sulit tentang kematian, kalau Hindu ada reinkarnasi, maka disini manusia akan di pocong. Kemudian dimasukan pintu kecil sehingga orang Jawa ada istilah buyut atau Mlebu Lawang Ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Lantas, adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?

Tembang-tembang tersebut ternyata tanpa ada iringan music, maka dibuatlah oleh Sunan Bonang gamelan dengan nada slendro pelok. Sama Sunan Kalijaga kemudian dibuatkan tumpeng agar bisa makan, begitu makanan kotor dibasuh dengan tiga air bunga, mawar, kenanga, dan kanthil maksudnya

Asripmu mawarno warno, keno ngono kene ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah ( hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini boleh seperti itu, tapi hatimu harus tertaut kepada Allah).

Ketika tanaman telah ditanam, maka Sunan Ampel ingin tahu apakah tanamannya sudah tumbuh atau belum, maka muncul lagu lir-ilir. Yang isinnya menyatakan tanamannya sudah tumbuh belum, jika sudah ijo dan lebat kemudian belajar pada blimbing untuk belajar sholat yang memiliki lambang bintang.

Namun praktek sholatnya masih kurang, sering telat waktu sholat, maka Sunan Ampel mengajarkan lagu Tombo Ati yang sekarang terkenal. Tapi waktu sholat di Arab dipanah kakinya tak terasa, kalau disini berbeda. Saat Allahu Akbar, matanya bocor, kupingnya bocor, karena dengar suara tukang baso, hatinya bocor karena demo imam bacanya kepanjangan. Nah untuk menambal kebocoran itu para wali pun mengajak berdzikir setelah sholat dengan kalimat tauhid.

Lucunya lagi sekarang ini banyak yang protes karena waktu dzikir ada yang manggut-manggut atau geleng-gelang, dan dianggap nggak ada ajarannya. Bedanya sahabat itu muridnya para nabi, diam saja hatinya sudah sampai ke Allah, nah orang sini diajak dzikir qolbu yang ada molor.

Itulah beberapa cara ulama dahulu mengajarkan Islam, agar masyarakat mengenal ajaran Nabi. Karena Nabi Muhammad milik orang banyak. Sehingga tak usah heran kalau dalam memuji nabi memiliki banyak jenis sholawat.

Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya.

Ketidak sabaran Sultan Trenggono membuat masyarakat yang belum bisa menerima Islam dikejar-kejar. Untuk menahan hal tersebut, Sunan Kalijaga mengumpulkan anak kecil dan diajari nyanyi Gundul-gundul pacul.

Artinya Gundul yang mengambarkan kepala merupakan pemimpin yang harus memiliki empat hal, mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar. Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat.

Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan . Kalau kepala memangku amanah rakyat khianat, maka bakal ngegelimpang atau jatuh dari jabatannya.

Itulah cara ulama dulu menyebarkan Islam, damai sehingga membuat beberapa kerajaan di luar Jawa belajar Islam. Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi.

Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan. Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan,menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.

Cerita ini dibabad dari ceramah kiai Ahmad Muwaffiq di halaman TPQ MatholiA?l Falah, Dk. Pesantren, Ds. Sembongin, Kec. Banjareco, Kab. Blora, Jawa Tengah.

About Muslim Ramah

website seputar dunia islam dan kehidupannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *